Menghafal Al-Qur’an adalah nikmat dan karunia besar dari Allah Ta’ala. Tidak semua orang diberikan kemudahan untuk menghafal kalamullah. Namun yang lebih penting dari sekadar menambah hafalan adalah menjaga hafalan tersebut agar tetap kuat di dalam hati serta diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam manhaj salaf, para ulama tidak hanya menekankan hafalan, tetapi juga muraja’ah, pemahaman, dan pengamalan Al-Qur’an. Karena ilmu tanpa amal tidak akan membawa keberkahan, sedangkan hafalan tanpa penjagaan akan mudah hilang.
Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa hafalan Al-Qur’an sangat mudah lepas apabila tidak terus diulang.
Beliau ﷺ bersabda:
“Jagalah Al-Qur’an ini. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh ia lebih cepat lepas daripada unta dari ikatannya.”
(HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim)
Hadits ini menunjukkan pentingnya muraja’ah (mengulang hafalan). Seorang penghafal Qur’an tidak boleh merasa cukup hanya dengan pernah hafal, tetapi harus terus menjaga hafalannya setiap hari.
Muraja’ah adalah mengulang hafalan Al-Qur’an secara rutin agar tetap kuat dan tidak hilang. Para salaf sangat perhatian terhadap muraja’ah karena mereka memahami bahwa hafalan membutuhkan penjagaan yang terus-menerus.
Sebagian ulama salaf membagi waktu mereka antara:
menambah hafalan baru,
dan mengulang hafalan lama.
Bahkan banyak ulama lebih mendahulukan muraja’ah daripada menambah hafalan baru apabila hafalan lama mulai lemah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia dan taat.”
(HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim)
Setiap huruf Al-Qur’an yang dibaca mendatangkan pahala. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.”
(HR. Jami' at-Tirmidhi)
Karena itu muraja’ah bukan hanya menjaga hafalan, tetapi juga termasuk ibadah yang mendatangkan pahala besar.
Dalam manhaj salaf, Al-Qur’an bukan hanya untuk dihafal, tetapi juga diamalkan. Para sahabat رضي الله عنهم mempelajari Al-Qur’an dengan penuh tadabbur dan pengamalan.
Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه berkata:
“Apabila kami mempelajari sepuluh ayat dari Nabi ﷺ, kami tidak melanjutkan kepada ayat berikutnya sampai kami memahami maknanya dan mengamalkannya.”
Inilah metode para sahabat:
hafal,
paham,
lalu diamalkan.
Allah Ta’ala berfirman:
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya.”
(QS. Al-Qur'an Shad: 29)
Para ulama salaf menjelaskan bahwa dosa dan maksiat dapat menyebabkan ilmu dan hafalan hilang.
Imam Imam asy-Syafi'i رحمه الله pernah mengadu kepada gurunya tentang buruknya hafalan. Maka gurunya menasihati agar meninggalkan maksiat, karena ilmu adalah cahaya dari Allah dan cahaya Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat.
Karena itu penghafal Qur’an hendaknya menjaga:
shalat,
pandangan,
lisan,
adab,
dan pergaulan.
Jangan biarkan satu hari berlalu tanpa membaca hafalan lama walaupun sedikit.
Membaca hafalan ketika shalat sangat membantu menguatkan hafalan dan menghadirkan kekhusyukan.
Semakin diamalkan, semakin kuat hafalan dan keberkahannya.
Hati yang bersih lebih mudah menjaga hafalan Al-Qur’an.
Lingkungan yang baik membantu menjaga semangat muraja’ah dan ibadah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi...”
(HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah memiliki keluarga dari kalangan manusia.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mereka adalah ahlul Qur’an, yaitu keluarga Allah dan orang-orang pilihan-Nya.”
(HR. Sunan Ibnu Majah, dishahihkan sebagian ulama)
Keutamaan ini diperoleh oleh orang-orang yang:
membaca,
menghafal,
menjaga,
dan mengamalkan Al-Qur’an.
Menjaga hafalan Al-Qur’an membutuhkan kesungguhan, muraja’ah yang rutin, serta amal yang sesuai dengan isi Al-Qur’an. Dalam manhaj salaf, Al-Qur’an bukan sekadar hafalan di lisan, tetapi cahaya yang membimbing hati dan amal perbuatan.
Semoga Allah menjadikan kita dan anak-anak kaum muslimin termasuk ahlul Qur’an yang:
menjaga hafalannya,
memahami maknanya,
mengamalkannya,
dan istiqamah di atas sunnah Rasulullah ﷺ hingga akhir hayat. Aamiin.